Sabtu, 10 Mei 2014

Gugurnya Daun Di Musim Semi (Naskah Lomba Menulis di Majalah ISMA)


Gugurnya Daun Di Musim Semi
Sudah lama aku tidak bermain dengan teman-teman setelah aku pindah kemari. Berfoto, makan-makan, jalan ke mall. Itu semua tidak pernah aku jumpai kembali. Atau mengerjakan tugas kelompok bersama-sama.
            Aku hanya terdiam di ruang hampa ini, hanyut dalam ketiadaan seperti kerlip bintang yang kesepian. Memegang boneka dan foto Fikri yang semakin lusuh.
            Ah, Fikri ...
            Kau begitu kejam, menggugurkan mimpi-mimpi yang telah aku tanam. Kalau bukan karenamu mungkin aku telah menjadi satu bintang yang cemerlang. Seperti namaku Nazma yang berarti bintang.
            Keluarga tidak akan pernah meretas dendam. Dan mencarimu yang telah mengucilkanku kemari. Aku sudah tidak tahu siapa diri ini, hanya memanggil namamu kekasihku, Fikri. Dan sesekali aku robek fotomu kemudian aku pasang kembali.
*                                              *                                              *
            Hujan turun begitu deras. Aku hendak pergi ke kossan kakak kelas sekaligus kekasihku, Fikri. Kita sudah berhubungan satu bulan.
            Ketika di kost-an, baju kita basah kuyup. Fikri membawakanku secangkir teh hangat. Dia memang perhatian. Aku pun meminum tehnya sampai habis. Beberapa saat kemudian aku merasa pusing dan mengantuk. Namun aku tahan. Tapi aku begitu menikmati mataku yang terpejam dalam.
            Saat itu aku lihat hujan sudah reda, hanya meninggalkan titik air di daun. Fikri terduduk merunduk dan sudah berganti baju. Lalu, dia menyuruhku untuk segera pulang. Aku jadi merasa aneh, padahal aku rasa baru saja aku datang ke kost-annya, dan sekarang sudah disuruh pulang lagi. Tapi saat aku lihat jam ternyata sudah senja, aku semakin tidak mengerti. Namun aku hiraukan itu semua. Mungkin Fikri menyuruhku pergi karena takut aku pulang kemalaman dan hujan lagi. Aku pun segera pulang.
            Besok harinya aku masuk sekolah seperti biasa. Dan masih suka kontekan dengan Fikri. Jarak antara kelasku dan kelasnya lumayan dekat. Namun sikap dia menjadi beda, setelah aku pergi ke kossannya. Dia jarang membalas pesanku, dan jarang menampakan wajahnya di depan mata. Aku pun jadi merasa aneh dengan tingkahnya.
            Akhir-akhir ini aku selalu merasa mual, dan datang bulan pun telat. Semua ini membuatku resah. Satu bulan kemudian aku merasa ada yang aneh dari diriku. Perutku agak membuncit. Aku terus berusaha untuk berpikiran positif. Namun semakin hari aku semakin penasaran dengan keadaanku dan terhadap perubahan sikap Fikri. Karena datang bulan tak kunjung datang, aku mencoba mengetes air urin dengan tes kehamilan. Walau jauh dari pikiranku akan hamil.
            Tapi ternyata hasil dari tes itu positif—hamil. Hatiku mulai galau, panik, takut dan membuatku bingung kenapa bisa hamil. Setelah aku mengingat hari-hari sebelumnya, terakhir aku bertemu dengan lelaki adalah dengan Fikri ketika aku diajak main ke kossannya.
            Hatiku menjerit kenapa bisa terjadi seperti ini. Aku pun langsung menghubungi Fikri lewat via telefon. Dan akhirnya dia mengakui bahwa dia telah menghamiliku. Dia menceritakan ketika aku di kossan dengan basah kuyup dan diberinya minum, disana dia menaruh obat ke dalam air teh itu. Dan saat itu dia menikamku tanpa aku sadari. Dia menjelaskan bahwa dia melakukan itu karena mencintaiku. Saat itu hatiku hancur, air mata tiada henti membasahi. Aku kira dia adalah orang yang baik dan pengertian. Namun jauh dari itu. Dia biadab telah mengkotori, dan menyeretku ke dunia yang terputuskan dari kehormatan manusia.
            Besok harinya di sekolah—ketika aku tanyakan keberadaan Fikri. Temannya berkata bahwa dia tidak ada. Aku hubungi nomor handphonenya selalu di reject. Semakin hari aku semakin seperti orang gila. Memikirkan keberadaan orang yang telah menyakiti. Aku tidak memberi tahu hal ini kepada keluarga karena aku terlalu takut untuk mengatakannya.
            Tiada hari kegelisahan dan ketakutan pun kian menyelimuti. Aku bertekad untuk menggugurkan kandungan, karena Fikri mulai menghilang dan itu membuatku semakin galau. Nomornya sekarang tidak bisa dihubungi, aku hampiri ke kossannya namun tidak ada. Aku selalu berusaha menggugurkannya namun tidak bisa. Semakin hari kandungan ini semakin membesar. Aku pun mulai membuka rahasia ini dengan terpaksa kepada keluarga.
            Di ruang keluarga terdapat Ayah, Ibu, kak Rio dan mbak Cantika kembaranku. Mereka terlihat sedang asik menikmati senja. Sedang aku dibalik pintu menengok dengan rasa takut yang begitu dahsyat. Jantung berdegup begitu kencang. Kaki sulit dilangkahkan untuk menghampiri mereka. Mereka sedang diselimuti kehangatan dan bahagia, sedang aku membawa kabar yang akan merusak potret mereka. Dengan perlahan aku menghampiri, tanganku begitu dingin seperti bongkahan es dan gemetar.
            “ibu, ayah” ucapku perlahan dan terasa sulit bibir ini untuk berbicara
            “iya nazma, kenapa?” jawab Ibu, sedang Ayah, kak Rio dan kembaranku mbak Cantika tertuju kepadaku yang berdiri.
            Air mataku sudah tidak bisa tertahan lagi, hingga menitik di atas pipi.
            “kamu kenapa menangis?” tanya ayah
            “aku hamil” dengan terbata-bata dan sulit aku katakan semua.
            Semuanya tersontak kaget mendongak melihatku yang merunduk dan sembab.
             “apa?! Kamu hamil?!” pekik ibu dan hendak berdiri dari kursi
            “iya..” dengan lirih aku mulai menangis merintih
            “kenapa bisa begitu nazma?! Oleh siapa kamu di hamili?!” tanya Ayah dengan nada tinggi. Sedang kak Rio dan mbak Cantika terlihat kaget dan masih tidak percaya dengan kabar buruk ini.
            “sama kakak kelasku”
            Ibu langsung menamparku dengan keras, hingga aku terbujur ke lantai. Ibu begitu kecewa dan marah. Apalagi aku lebih kecewa dengan diriku sendiri dan menyesal seumur hidup. Amarah ibu ditahan oleh kak Rio dan mbak Cantika. Ayah pergi ke kamar meninggalkanku yang tersungkur. Semua pergi meninggalkan aku sendiri.
            Keesokan harinya kak Rio menyuruhku untuk membawa Fikri ke rumah. Aku pun langsung berangkat ke sekolah tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibu. Ketika aku datang ke kelasnya Fikri, dia tidak ada. Temannya berkata dia keluar dari sekolah ini. Amarahku meluap, hati ini begitu galau. Wajahku sembab karena menangis terus. Teman-teman sekelasku selalu menanyakan keadaanku yang semakin hari terlihat aneh. Namun aku tetap tidak pernah membuka rahasia ini.
            Setelah pulang sekolah aku pergi ke kost-annya Fikri. Aku tanyakan kepada Ibu kost namun ternyata dia sudah pindah. Ketika aku tanyakan alamatnya dia sama sekali tidak mengetahui karena Fikri tidak memberitahu. Hatiku hancur berkeping-keping saat itu. Aku tidak tahu alamatnya yang di Bandung, aku tidak tahu harus kemana lagi mencarinya. Nomornya sudah tidak bisa dihubungi.
            Saat itu aku putuskan untuk menggugurkan kandungan dan pergi ke tempat pengguguran kandungan di tempat yang terpencil. Namun setalah aku pergi kesana dan hasil dari testpack kandungan ini tidak berhasil digugurkan karena umur kandungan sudah tiga bulan dan itu cukup tua. Dari sana aku langsung pergi dan berjalan di trotoar ditengah derasnya hujan.
            Aku seperti orang gila menangis dengan keadaan basah kuyup. Pikiranku begitu kacau. Hati hancur berkeping-keping. Kekasihku yang selama ini aku percaya dan aku sayang ternyata dia begitu jahat dan biadab, telah menghamili tanpa mau bertanggung jawab. Dan meninggalkan semua tanpa ingin tahu bagaimana keadaanku sekarang ini yang semakin hari semakin galau.
             Ketika sampai di rumah, badanku begitu dingin. Dan aku membicarakan semua kepada keluarga bahwa Fikri telah kabur. Ayah pun mulai bertindak dan mencari kediaman Fikri untuk menikahiku. Kak Rio sudah melapor kepada polisi. Namun tetap saja tidak ditemukan. Hingga akhirnya keluarga pun memutuskan aku untuk hamil tanpa suami. Dan membiarkan kandungan ini tumbuh dengan sendirinya.
            Keluarga memberi surat sakit kepada pihak sekolah, aku pun tak pernah keluar dari kamar. Aku selalu menyendiri melihat kandungan ini semakin membesar. Hingga pada akhirnya tibalah dimana kandungan ini sudah sembilan bulan. Aku pun melahirkan. Begitu sakit aku rasa, darah berceceran dimana-mana. Bayi laki-laki terlahir dengan sempurna tanpa ayah disampingnya.
            Sungguh aku tidak siap mengurusnya. Suatu hari tante aku datang ke rumah. Dia mandul dan tidak mempunyai anak, lalu dia meminta ijin untuk mengurus anakku yang baru terlahir. Dengan hati yang tak jelas aku rasa karena sudah sering aku merasakan sakit, anak yang aku lahirkan pindah ke pangkuan tante aku sendiri dan dibawa ke luar kota tinggal bersamanya.
            Tetangga, teman-teman semua tidak ada yang mengetahui keadaanku saat ini. Rahasia ini ditutup rapat oleh keluarga. Karena mereka malu mempunyai anak yang telah dihamili orang lain. Dan mereka takut potret nama keluarga ini menjadi buruk. Hingga akhirnya ini semua menjadi rahasia keluarga seutuhnya.
            Sebulan kemudian aku tidak pernah keluar dari kamar. Selalu menyendiri berdiam. Menjerit-jerit dan menangis sendiri. Dan berteriak memanggil nama Fikri. Suatu hari Ibu dan Ayah membawaku ke suatu tempat. Mereka bilang itu adalah tempat baruku, dan akan ada Fikri datang kesana.
*                                              *                                              *
Ditempat yang bertembok putih, berjendela satu dan sunyi aku selalu sendiri. Sudah lama aku tinggal disini, menanti Fikri yang telah dikatakan keluarga akan datang. Terkadang orang-orang yang memakai baju putih memberiku makan dan membawaku bermain di halaman. Dipikiranku tidak ada yang lain selain nama Fikri. Aku ingin dia datang dan melihat bayiku.
            Kemudian Fikri datang, membawakanku makanan. Aku langsung menghampiri dan memeluknya.
            “kamu kemana saja?” ucapku “bayi kita sudah terlahir, dia lucu”
            Namun Fikri terus bediam tidak menyahutku, mungkin dia malu karena dulu meninggalkanku sendiri dengan beban yang berat.
            “fikri.. ayo kita lihat anak kita”
            Tiba-tiba fikri melemparku ke kasur “aku bukan Fikri” ucapnya
            “kamu fikri” jawabku memaksa. Dan tiba-tiba perlahan wajahnya berubah bukan Fikri. Dia memakai baju putih. Dia yang selalu membawkanku makanan. Dia benar-benar bukan Fikri. Dia adalah perawat di tempat ini—Rumah Sakit Jiwa.  Aku tahu, selama ini aku disimpan kemari. Namun aku merasa nyaman tinggal disini. Karena aku yakin Fikri akan datang. Keluarga sudah tidak pernah menengokku. Aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Hanya boneka dan foto lusuh Fikri yang aku punya. Mungkin jika Fikri tidak kunjung datang, aku harap anakku akan baik-baik saja disana. Dan aku hanya akan menunggu ajal tiba. Dimana aku akan pergi untuk selamanya.




Cianjur, 2011

LFE
Biodata
Nama               : Lina Fatinah
Kelas               : XII IPA 4
Ttl                    : Cianjur, 25 Mei 1993
Alamat                        : Kp. Jambudipa Rt. 01 Rw. 03 Kec. Warungkondang Kab. Cianjur
No. Hp                        : 0857 2111 0038

Tidak ada komentar:

Posting Komentar